Foto : Team Cheerleader SMK N 8 Semarang
Gelaran ujian nasional untuk anak SMP telah berakhir. Tanggal 21 Juni 2008 adalah saat yang paling ditunggu dan tentu sangat menegangkan karena hari itu dipertaruhkan nasibnya dalam menatap masa depan, yaitu lulus atau ditunda tahun depan.
Sehabis kelulusan, agenda berikutnya yang tidak kalah menguras tenaga dan biaya adalah melanjutkan sekolah ke tingkat menengah atas. Hanya ada waktu satu minggu untuk memikirkan kemana akan melanjutkan karena tanggal 28 Juni 2008 sudah dimulai pendaftaran. Banyak siswa dan orang tua tidak mempunyai bekal informasi yang cukup tentang sekolah menengah atas. Ini cukup serius karena kesalahan mengambil keputusan dalam melanjutkan di sekolah menengah atas akan berpengaruh terhadap masa depan anaknya. Saat ini banyak orang tua yang hanya melihat SMA sebagai lanjutan sekolah anaknya dan memandang sebelah mata terhadap keberadaan SMK. Untuk itu kami akan memberikan informasi perbedaan antara SMA dan SMK.
Perbedaan SMA dan SMK adalah :

SMA

SMK

Ditujukan untuk siswa yang akan melanjutkan ke Perguruan TinggiDitujukan untuk siswa yang mau bekerja dan melanjutkan ke perguruan tinggi
Kurikulum SMA lebih banyak teori dari pada praktekKurikulum SMK lebih banyak praktek dari pada teori
Tamatannya tidak siap kerja dan tidak mandiriTamatannya siap kerja dan mandiri
Tempat belajar hanya di sekolahTempat belajar di sekolah dan dunia kerja
Melihat data perbedaan di atas, jelas terlihat bahwa SMK lebih menjanjikan masa depan dibanding SMA. Hal ini disebabkan karena :
  1. Kondisi perekonomian Indonesia yang belum bagus.
    Minggu lalu harga BBM naik lagi. Kenaikan harga BBM ini memicu kenaikan harga barang dan jasa yang lain. Harga kebutuhan pokok melonjak, biaya angkutan juga merangkak naik tetapi pendapatan masyarakat tetap. Hal ini menyebabkan beban ekonomi masyarakat semakin berat. Kondisi tersebut menyebabkan biaya untuk pendidikan anak semakin susah untuk dipenuhi. Untuk itu, menyekolahkan anak dalam jangka waktu yang lama tentu sangat memberatkan orang tua. Solusi untuk mengatasi keadaan tersebut adalah dengan menyekolahkan anak di sekolah yang lulusannya cepat dapat kerja tetapi tidak membutuhkan waktu lama. Sekolah tersebut adalah SMK karena hanya butuh waktu 3 tahun untuk dapat bekerja atau berwiramandiri. Sementara jika mengambil sekolah di SMA butuh waktu 8 tahun untuk dapat bekerja yakni 3 tahun di SMA dan 5 tahun di PT.
  2. Banyak lulusan SMA yang tidak melanjutkan kuliah di Perguruan Tinggi
    Kurang dari 10 % lulusan SMA yang melanjukan kuliah di PT, padahal kurikulum SMA disetting untuk melanjutkan sekolah di PT. Ini tentu sangat ironis karena hampir 90% tamatan SMA terjun di dunia kerja padahal kurikulum SMA tidak disiapkan untuk bekerja. Akibatnya banyak lulusan SMA yang kalah bersaing dalam mencari pekerjaan karena mereka memang tidak siap kerja. Oleh karena itu, pemerintah mengambil kebijakan untuk menambah jumlah SMK daripada mengembangkan SMA. Komposisi perbandingan yang dibuat adalah 70% SMK dan 30% SMA. Ini tentu dengan tujuan untuk menjadikan lulusan sekolah menengah yang siap kerja dan mandiri.
  3. Dunia kerja yang semakin kompetitif
    Kenaikan BBM menyebabkan banyak perusahaan yang mengurangi jumlah karyawan sehingga terjadi PHK besar-besaran. Kondisi ini meyebabkan para pencari kerja semakin banyak sementara lowongan kerja semakin sedikit. Sehingga persaingan dalam memperebutkan lowongan pekerjaan semakin ketat. Ketatnya persaingan mencari kerja menjadikan tamatan sekolah menengah harus orang yang kompeten di bidangnya dan siap kerja. SMK sangat piawai dalam mencetak lulusan yang siap kerja dibanding SMA.
Akhirnya jangan gengsi untuk memilih SMK dan bukan saatnya mengatakan bahwa SMK adalah sekolah menengah kelas dua. Dengan motto cerdas, siap kerja dan kompetetitif SMK siap mencetak lulusan yang siap kerja dan mandiri.
 
Top